“Rethinking Cool” Gaya Anak Muda Bandung

Tak sengaja, suatu siang, saya mendengar percakapan dalam bahasa Sunda dua orang anak laki-laki berseragam SMP di angkot Cihaheum-Ledeng, dalam perjalanan ke tempat kerja saya. “Maneh geus meuli sendal 347 can?” pertanyaan dalam bahasa sunda yang artinya: ‘kamu sudah beli sendal 347 belum? ‘, mengusik saya. Secara reflek, saya memandang si penanya yang duduk di hadapan saya. Ketika memandang mimik mukanya yang berapi-api, mata saya terpaut pada ransel sekolah yang ada dipangkuannya, merek 347, menghiasi ransel berwarna biru tua itu. Temannya yang duduk di sebelah saya menjawab: “acan euy, ku naon aya nu anyar?’ (belum, kenapa ada yang baru?). Anak SMP yang duduk di hadapan saya itu setengah memarahi temannya: “Payah siah, meuli atuh meh gaul!” (payah kamu, beli dong biar gaul). Saya kaget, sekaligus geli dengan dua orang anak SMP itu. Kegelian saya bukan karena ekspresi mereka, tapi bayangan dandhy yang tiba-tiba muncul di kepala saya. Teman saya, si pemilik clothing label dan clothing store 347/eat, pasti dia akan cengar-cengir ketika mendengarkan hal ini.
Sejak boom distro (clothing store) tahun 2003, gaya berpenampilan anak-anak muda Bandung mulai anak SMP sampai kuliahan mengalami perubahan yang mencolok. Merek-merek lokal, seperti 347/eat, Oval, Airplane, Monik, Celtic, Nolabel, Invictus, God Inc dan masih banyak lagi, menghiasi penampilan mereka mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bukan hanya anak muda Bandung, setiap weekend dan menjelang hari raya, clothing store itu sibuk melayani serbuan konsumen mereka dari Jakarta dan kota-kota sekitar Bandung. “Gila orang Jakarta kalau belanja kayak orang kalap, kayak di Jakarta ga ada aja kaos kaya gitu” komentar Iit, seorang teman yang juga pemilik clothing label and store God Inc.
Tahun 2003-2004, pertumbuhan clothing store di Bandung memang gila-gilaan. Hampir 200 clothing store bermunculan di empat penjuru kota Bandung pada tahun itu. Belum lagi ratusan clothing label yang memproduksi produk fashion anak muda. Boom ini dipicu oleh pemberitaan yang cukup gencar di media massa nasional mengenai nilai ekonomi dari bisnis ini. Siapa yang tak tergiur ketika omset setiap bulannya bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah menjelang hari raya. Namun, hal yang seringkali dilupakan oleh banyak orang mengenai bisnis ini adalah bagaimana para pelakunya membangun usaha ini dengan modal kultural pada awalnya.
Pada mulanya adalah hobi…………………..
Siapa sangka, dari sebuah skatepark kecil di salah satu sudut Taman Lalu Lintas Bandung (Taman Ade Irma Suyani), di awal tahun 1990-an, menjadi tempat bersejarah yang melatar belakangi perkembangan fashion anak muda Bandung dalam satu dekade terakhir ini. Skateboard kemudian menjadi benang merah yang menjadi ciri dan eksplorasi fashion dan lifestyle yang dielaborasi oleh para pelakunya dan membentuk gaya anak muda Bandung hingga saat ini.
Pertemuan di Taman Lalu Lintas membuat Didit atau dikenal dengan nama Dxxxt, Helvi dan Richard Mutter (mantan drumer Pas Band), kemudian bersepakat mengelola sebuah ruang bersama di Jalan Sukasenang Bandung. Ruang ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal yang munculnya bisnis clothing lokal untuk anak muda di Bandung. “Cari nama dit, si helvi bilang gitu..waktu itu lagi ngomong-ngomong soal Cihampelas,” Dxxxt mengawali ceritanya ketika saya bertanya darimana nama Reverse berasal. “Kenapa ya, si Cihampelas itu ngga bikin produk-produk dengan merek-merek sendiri, kenapa mereka bikin mereknya reply lah, armani lah.. kenapa ga bikin sendiri, reverse misalnya.. trus Helvi bilang nama itu bagus. Ya udah akhirnya dipakai buat nama toko.” Tahun 1994, mereka membangun studio musik dan toko yang menjual CD, kaset poster, T-shirt, majalah, poster dan asesoris band yang diimport langsung dari luar negeri. Pilihan yang spesifik, membuat barang yang dijual di Reverse, tak bisa didapatkan di toko-toko lain di Bandung pada saat itu.
Reverse pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas dari scene yang berbeda. Punk, hardcore, pop, surf, bmx, skateboard, rock, grunge, semua bisa bertemu di tempat itu. PAS dan Puppen adalah beberapa band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse. Richard sendiri sempat membentuk record label independen 40.1.2.4 yang rilisan pertamanya berupa album kompilasi “Masaindahbangetsekalipisan”, pada tahun 1997. Band-band yang ikut dalam rilisan itu diantaranya Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room sebagai band satu-satunya dari Jakarta yang masuk dalam kompilasi ini.
Saat krisis ekonomi terjadi pada tahun 1998, bisnis yang dijalani Reverse, mengalami masa sulit sampai akhirnya tutup. Mereka tak mampu lagi membeli barang-barang dari luar negeri kerena nilai dolar terhadap rupiah melambung tinggi dan tak terjangkau. Namun kondisi sulit ini justru melahirkan fase baru dalam perkembangan industri clothing Bandung. Helvi vetaran Reverse, kemudian membangun clothing label bernama Airplane yang memulai usahanya pada tahun 1997. Bukan hanya itu, bersama Dxxxt dan Marin, Helvi membangun record label bernama Fast Foward pada tahun 1999.
Airplane yang didirikannya bersama dua rekannya yang lain: Fiki dan Colay, resmi berdiri pada tanggal 8 Februari 1998. “Awalnya sih kita udah ngga mampu lagi beli barang-barang impor karena mahal dan krisis moneter. Waktu itu kita mikir, kita bikin apa ya? Soalnya kalau beli, ngga ada yang cocok, pengen kaos yang kaya gini ngga ada.. yang gitu ngga ada.. awalnya dari situ, ya udah kita bikin sendiri deh yang pasti dengan background masing-masing. Semua dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari yang kita senangi aja.. biasanya dari skateboard, trus kita juga main musik, trus itu mempengaruhi ke grafis desain clothing itu sendiri. Jadi emang akhirnya macam-macam.” Jelas Helvi ketika saya temui di kantor Airplane di jalan Titiran Bandung.
Transformasi Reverse sebagai clothing company, dimotori oleh Dxxxt pada bulan Februari 2004. Didukung oleh Marin, Wendi Suherman dan Indra Gatot sebagai mitra usahanya. Reverse kemudian menjelma menjadi label yang memfokuskan dirinya pada fashion untuk pria. Urban culture yang menjadi keseharian tim kreatifnya, menjadi inspirasi dalam desain produk-produk Reverse.
Sementara kegemaran skateboard, bmx dan surfing yang ditekuni Dandhy dan teman-temannya, justru memotivasi mereka untuk membuat produk-produk yang mendukung hobi yang mereka cintai. Bukan hal yang mudah untuk menemukan fashion penunjang kegiatan surfing di Bandung pada saat itu. Maka tahun 1996, dari rumah di Jalan Dipatiukur 347 Bandung, mereka mulai memproduksi barang-barang yang menunjang hobi mereka untuk digunakan sendiri. Ternyata apa yang mereka pakai, menarik perhatian teman-teman mereka. Seperti halnya Airplane, dengan modal patungan seadanya mereka mulai memproduksi barang-barang yang mereka desain untuk kebutuhan hobi mereka itu, untuk dijual di kalangan teman-teman mereka sendiri dengan label ‘347 boardrider co.’ Toko pertamanya dibuka pada tahun 1999 dan diberi nama ‘347 Shophouse’ di Jalan Trunojoyo Bandung. Demikian pula Ouval yang muncul di tahun 1998. Awalnya juga dibentuk dengan semangat untuk mengelaborasi hobi skateboard para pendirinya.
Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan. Riotic juga dikenal konsisten dalam mendukung pertunjukan-pertunjukan musik punk rock dan underground yang saat itu kerap diselenggarakan di Gelora Saparua Bandung.
~ by Hamish Argyle on December 2, 2007.
Posted in Bandung, Gaya Hidup
Tags: arak, babanyolan, bad, Bali, band, Bandung, bola, brigez, british, britpop, bugil, bule, cafe, classic, computer, deathrockstar, demo, disco, distro, Family, fire, fire video, friendship, friendster, Hamish, harley, helmet, ichen, indie, indonesia, industrial, intermezzo, iseng, jualan, kanojo, kartun, korea, kulinerarak, Kuta, lieur, logo, mabok, magazine, metal, mimpi, mods, motor, mudikarak, multiply, music, paranoid, party, pasos, persib, pop, puisi, punx, rancid, review, rock, rockabilly, Selingkuh, setstats, sexy, skinny, stoopid, sunda, sundaarak, Sunset, tips, trend, underground, webzine, webzinearak







bIqn tamBah pengetAhuan bWt oRng2 yang bLum tau
siP dehhh…..
Fuck the kids
because they’re young, they’re easy bait
kangen masa masa indah dulu
btw lam kenal yah…
TriMS yaa sudah MampiR….SaLaM keNaL…..
gw belum baca semuanya euy…. coz gw lagi nyari yang berkaitan dengan perkembangan psikologi anak muda. kalo punya boleh juga tuhh ato bukyu apa aja yang berkaitan dengan perkembangan psikologi anak muda… kirimin gw donkk…. gw tunggu Thank’s
Wah… mas…mas… aya nu anyar 347 na???… ahakahkahakhakahk… salam ama temennya yang punya 347/eat itu yach… (boleh minta discount gak?, hikhikhikhik…)
tapi hebat euy… dari sekedar hobby bisa jadi usaha yang menghasilkan uang. Good job.
Salam kenal yach… ehhh, disini kok gelap sekali… mati lampu yach???… heheheh… tombol lampunya mana sich???… Apa? ohh, belum bayar listrik?… Pantes…
*kabur sebelum ditimpuk tas nu anyar dari 347/eat…. eh, balik lagi dech… kalo ditimpuk kaos mauuuuu*
ahakahkahkhkhk… maafkan saya sudah ngejalang alias nyampah2 di blog anda…
mantaplah..asal jgn trlalu memaksakan..
salut deh sama kreativitas anak2 muda indonesia yg bisa menghasilkan sesuatu (baca: duit) dari ide2nya untuk ngebangun clothing line sendiri, ato boleh dibilang clothing empire karena emang networknya gila2an, peminatnya bejibun. Jujur aja gw sbgai org jakarta prnah juga macet2an ke bandung demi memburu distro-distro…
kebetulan gw juga pengen bkn clothing line sendiri, bagi2 tips
donk bwt menjaga kualitas dan ke-originalan produk2..maklum amatir nihhhh…
udah ah. Byee..